Ratusan SOP di Badilag Mulai di Evaluasi
12/10/16 08:18:02   |   admin   |   Profil


Ditjen Badilag mulai memonitor pelaksanaan Standard Operating Procedure (SOP) dan mengevaluasi berbagai SOP yang ada, baik dari segi format maupun substansi. Dua upaya penting itu dilakukan Badilag dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di Bogor selama tiga hari, 19-21 Maret 2014. Sebanyak 27 pejabat dan pegawai Badilag mengikuti kegiatan ini. Total SOP yang hendak dievaluasi berjumlah 254. Seluruh SOP itu berlaku di Badilag yang terdiri dari empat unit kerja eselon II. Ketika membuka kegiatan ini pada Rabu (19/3/2014) malam, Dirjen Badilag Dr. H. Purwosusilo, S.H., M.H. mengingatkan bahwa penyusunan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi terhadap SOP merupakan wujud nyata dari reformasi birokrasi. Tidak mengherankan, ketika melakukan pemeriksaan, Tim Reformasi Birokrasi atau biasa disebut Tim Quality Control selalu memeriksa dokumen SOP beserta implementasinya. Selain itu, mengacu kepada audit kinerja yang pernah dilakukan oleh BPK, menurut Dirjen Badilag ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Ada nggak standar kerja kita yang kita pakai sebagai landasan melaksanakan pekerjaan? Kemudian, apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan standar itu? Berikutnya, apakah standar itu pernah dievaluasi? tuturnya. Dirjen Badilag menegaskan, ratusan SOP yang dimiliki Badilag memang sudah waktunya dievaluasi. Sebab, ratusan SOP itu disusun Badilag pada tahun 2010 hingga 2011, ketika MA secara resmi belum memiliki pedoman penyusunan maupun evaluasi SOP. Setahun setelah kita bikin SOP, baru ada pedomannya, ungkapnya. Pedoman yang dimaksud Dirjen Badilag adalah Peraturan Sekretaris MA Nomor 01 Tahun 2012 tentang Pedoman dan Evaluasi terhadap SOP di Lingkungan MA dan Badan Peradilan yang Berada di Bawahnya dan Peraturan Sekretaris MA Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan SOP di Lingkungan MA dan Badan Peradilan yang Berada di Bawahnya.

Kepala Bagian Organisasi dan Tatalaksana Ditjen Badilag Dr. H. Abu Tolhah, M.Pd yang menjadi penanggung jawab kegiatan ini mengungkapkan bahwa instrumen monitoring pelaksanaan SOP sudah disebarkan ke seluruh unit kerja eselon II di Badilag. "Sebagian sudah dikembalikan dan sebagian belum. Instrumen itulah yang akan kita kumpulkan dan kita bahas hingga besok Jumat," tuturnya. Instrumen monitoring itu berupa matriks yang memuat kolom prosedur atau jenis pekerjaan, penilaian terhadap penerapan, catatan hasil penilaian, tindakan yang harus diambil, dan paraf penilai. Di samping itu, ada pula semacam kuesioner yang pilihan jawabannya ada dua: prosedur berjalan dengan baik atau tidak berjalan dengan baik. Hasil monitoring ini diharapkan dapat berguna untuk memilah mana SOP yang perlu dipertahankan dan mana yang perlu diperbaiki.

Kepada para peserta kegiatan ini, Dirjen Badilag berpesan agar pelaksanaan SOP di Badilag dimonitor dengan sungguh-sungguh. Ratusan SOP yang ada juga perlu disesuaikan dengan pedoman yang telah dikeluarkan Sekretaris MA. "Tolong juga harus ada naskah evaluasinya, supaya nanti kalau diperiksa ada buktinya. Setelah itu, SOP yang telah tersusun dibagikan ke seluruh pegawai dan adakan sosialisasi di masing-masing unit kerja," Dirjen Badilag menambahkan. Agar memiliki kepastian dari segi waktu, Dirjen Badilag berharap agar monitoring pelaksanaan SOP dan evaluasi terhadap SOP ini dapat diselesaikan bulan depan. "Saya harapkan dapat selesai April, sehingga bisa kita resmikan sebagai pengganti SOP yang lama," imbuhnya. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Badilag H. Tukiran, S.H., M.M. berharap agar berbagai SOP yang ada betul-betul dicermati, sehingga nanti dapat tersusun SOP yang lebih jelas dan komprehensif. "Bisa dilakukan penyederhanaan SOP. Misalnya kegiatan pengonsepan, penulisan dan pengiriman surat tidak perlu dipisah-pisah, tapi digabung jadi satu kesatuan sebagai pelayanan surat keluar-masuk," ujarnya. Sekretaris Ditjen Badilag juga berharap agar penentuan nilai pada lembar monitoring didasarkan pada alasan-alasan yang objektif. "Jangan menggunakan asumsi," tegasnya.